BAGIKAN
Panorama Danau Poso

Berpulu kilo meter kita berperahu
melarung padang cahaya
Dan labuh di baris dongeng Manurung
Lalung
Sebagai dongeng, kita tiba-tiba ingin
mendekap alkisah itu
Melawat lebih jauh
Ke dasar mata air, ke
dasar lembah cinta
Di mana Manurung Lalung menghabiskan
seluruh usia
Sebagai manusia

Sebagai manusia mereka mengajar kita
Tak bisa semata percaya
Semestinya juga
mempertebal iba
Kerja tanpa ragu menggali makna
paling gaharu
Meski yang gaharu itu adanya di ruang
paling pilu

Dalam setiap detik arungan
Bukankah kita telah melihat banyak
pemandangan
Hutan-hutan tropis melepas hulu sungai
Mengeloki jejak anak-anak pamona
Menghidu wewangian bunga-bunga
matahari
Sejak pertama wajah danau ini tercipta

Ketika dating sampan-sampan nelayan
menebar jala
Mereka juga memerangkap kita
bukan saja pada takjub-takjub indah
Tapi seakan-akan tak ada lagi celah pada rajutan
dikepungkan itu Sepertinya TUHAN
sendiri menaruh tanganNya
Hingga putra-putra suku itu sigap membaca
Kemana arah angin dongi membawah kita
berlari

Mereka mengikat tonggak kayu,
Menjauhkan bayangnya
dari rebah matahari
Ombak–ombak menelusup kian dalam
ke liang hati

Aku menemukan tawamu di sini
Saat pohon-pohon cengkeh menguarkan aroma
Anggrek-anggrek liar di bancea dan batu-batu
menjorok itu
Membawah kita kenduri semester
bersusun gamping waktu tak bisa kucela.
Tak bisa ku belah
kecuali mencintainya

Dari desa peura kita menyisir gerai puncuk-puncuk rimba
Hingga tiba di kaki bukit marari
Yang telah dipenuhi kisah cahaya mata naga
Dalam kisah itu engkau mencoba mengejar
lentera
Terus berpindah dari tanjung ketanjung
Karena kau tak pernah menghitung
kawah api paling sungguh
Sesungguhnya di matamu yang teduh

Di sana pohon-pohon menjejarkan
lengannya
Memeluk kita di warni pasir
Dalam menit-menitnya begitu keemasan
Meski yang abadi barang kali hanya puisi ini
Puisi ku tulis dengan air mata

Baca Juga :  Dirjen Kebudayaan Rekomendasi Poso Masuk Program ‘Indonesiana’

Di pesisir hijau watu kayade-yade membeku
Menebarkan bau alam purba
Ikan-ikan sidat Menggeliat mengibarkan
siripnya
Bau onco arogo di kedai-kedai makan
Berjejer bersama aroma keningmu

Dipuluhan kilometer perjalanan menuju
hatimu

Di atas danau ini kita pernah menemukan
tepi sebuah waktu Dalam manis dan nyeri bahagia dan pilu

Poso 2014

Tinggalkan Komentar