BAGIKAN
Darwis Waru

Era tekhnologi komunikasi yang lebih populer dengan era millenia, memiliki dua sisi sekaligus, positif dan negatif. Pada satu sisi mengajarkan kearifan, karena membuat kita bisa berbagi referensi dengan mudah, namun pada sisi yang lain juga menyiapkan energi kebencian untuk saling menyerang dan menghancurkan.

Mengapa?, karena kita memiliki ruang yang begitu bebas dan meluas untuk meluapkan ekspresi semudah membolak bailkkan telapak tangan. Fatalnya, dalam era digital terkini, kita tak hanya bergaul dalam sebuah kategori usia yang sama, pendidikan yang setara, profesi yang sama, dan budaya dan tradisi yang sama. Sebaliknya, kita berada dalam sebuah ‘kerumunan’ orang secara global yang memiliki tingkat perbedaan yang rumit, sulit teridentifikasi secara manual.

Nah, fenomena inilah sesungguhnya yang rawan dengan benturan psikologi antar netizen yang secara fisik berjarak, luput dari kontak psikologi melalui panca indera. Bukankah ketika kita berkomunikasi secara tatap muka (face to face), antara komunikator dan komunikan bisa saling memberi signal melalui sorotan mata, tekanan suara, atau gerakan tangan misalnya? Semua signal ini tidak bisa kita tangkap secara sempurna dalam komunikasi melalui dunia maya, membuat jarak psikologis pun makin lebar, membuat kita gampang terpancing, berujung pada ujaran kebencian.

Begitulah saya mencoba mengamati fenomena perbincangan melalui medsos beberapa hari ini, memperlihatkan gejala komunikasi yang ‘gagal total’ di mana ratusan pesan mengalir dari berbagai arah tak terarah, keluar dari substansi pesan sebagaimana yang dikemukakan dalam postingan (status) awal, sebagaimana pula yang diharapkan oleh pemilik pesan status.

Karena itu pula, rasa-rasanya kita perlu melakukan evaluasi atas komunikasi yang kita jalin melalui medsos, salah satunya adalah mengedepankan positif thinking, seraya menahan diri untuk tidak mengumbar pesan yang sesungguhnya kita belum memahami sebuah topik pembicaraan. Hanya dengan cara seperti itu, kita bisa menghindar dari debat kusir yang bukan saja gagal dalam berkomunikasi, tapi juga terjebak dalam pusaran ujaran kebencian tak berujung, menguras energi yang tidak sedikit.

Baca Juga :  Mengharukan, Poso Kini Jadi Panggung Peduli Kemanusiaan

Semoga grup Poso Media Center (PMC) yang sementara kita kawal secara bersama ini tidak terjebak dalam arus komunikasi yang gagal total, sebaliknya bisa menjadi ‘oase’ di tengah panasnya debat kusir di luar grup yang tentu saja jauh lebih bebas,luas, dan kompleks. (Penulis adalah, Pendiri Poso Media Center Grup)

 

Tinggalkan Komentar