BAGIKAN
DESA PANJOKA, Desa yang Dihuni 94 KK ini, Sejak Puluhan Tahun Lalu, Belum Menikmati Aliran Listrik PLN. Mereka pun Berharap Pihak Pemda Poso Bisa Memikirkan Masalah yang Sedang Dihadapinya (Foto : Dokumen YPAL)

Pamona Utara, PMC. Nun jauh di sana, dua desa bertetangga tampak kegelapan pada malam hari, penduduk yang mendiaminya pun kini mulai gelisah. Bukan apa-apa, kedua desa yang terletak dalam wilayah administrasi kecamatan Pamona Utara, Kabupaten Poso itu, sejak berdirinya puluhan tahun lalu, belum pernah menikmati aliran listrik dari PLN.

Begitulah kondisi obyektif Desa Panjoka dan Uelincu, meski jaraknya tidak terpaut jauh dari pusat keramaian, namun desa yang berbatasan dengan desa Kuku itu, terkesan terpinggirkan dari akses pembangunan sejak puluhan tahun lalu. Karena itu pula, mereka berharap Pemerintah Daerah di bawah kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Poso saat ini, bisa memikirkan sejumlah masalah mendasar yang sedang mereka hadapi.

“Kalau berdasarkan hasil diskusi kami dengan warga beberapa hari lalu, masyarakat kedua desa tersebut berharap agar pihak PLN bisa segera mengusahakan pemasangan listrik dalam waktu dekat.”, kata Ketua Sarekat Hijau Indonesia (SHI) Poso, Obeth Songgo.

Obeth menambahkan, sebagai bentuk kepedulian terhadap warga, pihaknya telah mencoba membangun komunikasi dengan pihak PLN Cabang Poso. “Tadi pagi kami ke sana, menurut mereka untuk bisa memasukkan listrik di kedua desa pedalaman itu, mereka terkendala dengan izin dari Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Tengah, terkait dengan izin pinjam pakai penggunaan lokasi pemasangan tiang listrik sebanyak ratusan titik dalam wilayah hutan berstatus hutan lindung”, urai Obeth menjelaskan hasil diskusinya dengan pihah PLN Poso.

Informasi yang dihimpun di Desa Panjoka menyebutkan, akibat tidak adanya aliran listrik, warga Desa Panjoka dan Uelincu selama ini hanya menggunakan mesin genzet milik pribadi untuk menerangi 3-4 rumah, sehingga sebagian besar warga harus menerima kenyataan dengan menggunakan lilin dan alat penerang tradisional lainnya. “Secara ekonomi kita di sini dirugikan, bayangkan untuk membiayai BBM Genzet mencapai 2 liter sehari, itu tidak sampai 1 malam, jadi kalau dirata-ratakan pengeluaran warga yang menggunakan genzet bisa mencapai Rp. 500 Ribu – Rp.600 Ribu setiap bulannya”, kata Papa Ito, warga Desa Panjoka yang dikonfirmasi posomediacenter.com via telepon selulernya.

Baca Juga :  Bupati Ingatkan Camat Waspada Bencana

Kini Desa Panjoka dan Uelincu sedang didampingi oleh sejumlah pegiat Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), turut urung rembuk mencari solusi. Asal tahu saja, dengan tidak adanya aliran listrik membuat warga tidak hanya merasakan kegelapan semalam suntuk, tapi juga mempengaruhi pendapatan mereka. “Di sana itu kan ada usaha meubel, karena tidak ada listrik jadi pengelolaannya tidak maksimal, belum lagi terkait dengan kegiatan sosial spritual warga, contohnya dalam ibadah natal lalu, warga yang mayoritas beragama Kristen itu tidak bisa melakukan ibadah pada malam hari”, ujar Obeth mengajak Pemda untuk membuka akses kebutuhan listrik bagi warganya.

Diketahui, Desa Panjoka dan Uelincu, Kecamatan Pamona Utara, Kabupaten Poso, selama ini memang membutuhkan kajian tersendiri, selain keterbatasan aliran listrik, sarana transportasi untuk menuju ke desa tersebut, juga masih sulit dijangkau dengan kendaraan roda empat, karena kondisi jalan berlumpur dan berkelok-kelok, dengan jarak sekitar 17 Km dari Desa Sulawana, Ibukota Kecamatan Pamona Utara. (PMC-01)

Tinggalkan Komentar