BAGIKAN
TEMU LINTAS STAKEHOLDERS DI DESA MAYAKELI, Menuju Satu Desa Satu Produk (Foto : Dokumen YPAL)

PAMONA PUSELEMBA, PMC. One Village One Product (Satu Desa Satu Produk), begitulah sebuah kebijakan pembangunan kini mulai menemukan momentumnya. Tak urung, beberapa desa di wilayah tanah air pun mencoba menyikapinya dengan langkah taktis dan strategis.

Tak mau ketinggalan dengan desa lainnya, Desa Mayakeli di Kecamatan Pamona Puselemba, Kabupaten Poso, pun kini mulai bergeliat, dengan membidik pertanian organik sebagai produk andalannya. “Kita berharap produk ini bisa dapat memberi konstribusi dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi perdesaan, termasuk meningkatkan pendapatan desa secara umum, demi terwujudnya kemakmuran masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan desa”, kata Kades Mayakeli Sudirman Toha.

Optimisme Sudirman bukan tanpa alasan, asal tahu saja, sejak terlaksananya program ‘kemitraan wallacea’ oleh Yayasan Panorama Alam Lestari (YPAL) Poso, kesadaran masyarakat tentang kemandirian desa memang menunjukkan kemajuan cukup signifikan, khususnya dalam hal menjaga keseimbangan alam di Danau Poso.

MEMBANGUN SISTIM PERTANIAN ORGANIK, Selain Ramah Lingkungan, Juga Bisa Mengoptimalkan Penggunaan Potensi Desa Untuk Kesuburan Tanah, Termasuk Meningkatkan Pendapatan Petani

“Danau Poso perlu kita jaga secara bersama, karena memiliki beberapa jenis species penting seperti buntingi paruh bebek (Adrianichthys kruyti) dan Bungo (Xenopoecilus poptae). Kedua spesies ini secara khusus telah dikategorikan sebagai species endemik danau Poso”, ujar Koordinator program YPAL, Fadhil Abdullah kepada posomediacenter.com, di sela-sela kesibukannya mengorganisir pertemuan lintas stakeholder tersebut.

Kamis lalu, 25 Januari 2018, para pemangku kepentingan kembali bertemu di Balai Desa Mayakeli. Kegiatan yang dimediasi oleh YPAL dengan dukungan Burung Indonesia itu, tak hanya menghadirkan unsur masyarakat setempat, tapi juga menghadirkan para pengambil kebijakan di tingkat Kabupaten Poso. Tersebutlah Tim Pelaksana Inovasi Desa (TPID) Kecamatan Pamona Puselemba, Tenaga Ahli (TA) Pendamping Desa, Dinas PUPR yang diwakili oleh Okrifel Mamuaja, Petugas Penyuluh Pertanian, Pemdes Mayakeli bersama BPD, serta tokoh masyarakat setempat dari berbagai unsur, larut dalam suasana diskusi yang dipandu oleh Direktur YPAL, Yoppy Hari.

Baca Juga :  BPMD Gelar Bimtek Bagi Perangkat Desa

Dalam mengawali pertemuan tersebut, Yopy Hary memperkenalkan sebuah konsep permakultur dengan menggunakan pola pembagian zonasi-zonasi lahan yang dimaksudkan sebagai pemanfaatan lahan (intensifikasi lahan) secara terencana dan berkelanjutan.

WARGA DESA MAYAKELI, Antusias Merespon Sistem Pertanian Organik, Menuju Program ‘Satu Desa Satu Produk’

“Jadi kita tidak harus menguras energi yang besar dengan menguasai lahan seluas mungkin, sebaliknya dengan memanfaatkan lahan secara efektif kita bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat secara memadai, tentu dengan pola produksi dan pemasaran yang tertata secara baik. Selain itu, juga meminimalisir limbah pertanian demi menjaga kelestarian lingkungan kita”, urai Yopy di hadapan peserta pertemuan.

Begitulah geliat masyarakat Desa Mayakeli Kecamatan Pamona Puselemba, terus berupaya menjaga kelestarian lingkungan dengan memanfaatkan potensi alam di sekitarnya dalam bercocok tanam. Asal tahu saja, sejak Juni 2017 lalu YPAL Poso memang telah menetapkan desa yang terletak di bibir barat Danau Poso itu sebagai basis pengorganisasian dalam mendorong sistem pertanian organik.

“Kami memang sedang fokus untuk mendampingi beberapa desa untuk merespon tren pembangunan saat ini, yakni One Village One Product (Satu Desa Satu Produk). Setidaknya dengan semangat program itu, masyarakat menyadari pentingnya sebuah desa memaksimalkan potensi desanya tanpa melakukan eksploitasi sumber daya alam yang ada, sebaliknya fokus pada potensi desa, sekaligus memaksimalkan kearifan lokal yang ada, termasuk menjaga kelestarian lingkungan, khususnya danau Poso”, kata Fadhil Abdullah.

STAF PENGORGANISASIAN YPAL, Mempersentasikan Peta Tataguna Lahan

Informasi yang dihimpun di sekretariat Yayasan Panorama Alama Lestari (YPAP) Poso, Jl. Kihajar Dewantoro, Kelurahan Lombugia Poso Kota Utara, dalam kurun waktu 8 bulan berlalu, program Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF) sebagaimana yang dikawal YPAL bekerjasama dengan Burung Indonesia, telah melaksanakan beberapa item kegiatan, termasuk konsultasi Peta Tata Guna Lahan yang mencakup informasi polygon kawasan perlindungan dan kawasan pemanfaatan lahan secara berkelanjutan serta ruang sosial lainnya.

Baca Juga :  Giliran Lore Utara dan Lore Timur Gelar Musrembang

“Proses ini membuat desa cukup terbantukan terutama dalam hal melakukan perencanaan pembangunan pada masa akan datang, sehingga bisa mempertimbangkan efektifitas dan produktifitas penggunaan lahan berbasis ekologis”, kata Kades Mayakeli, Sudirman Toha. (pmc-01)

 

Tinggalkan Komentar