BAGIKAN
SINTUWU AKUISTIK, Tampil Maksimal, Memukau 200-an Pengunjung Aula Institut Mosintuwu, di Tentena (Dokumen : Mosintuwu)

PAMONA PUSELEMBA, PMC. Aula Dodoha Mosintuwu, Rabu malam, 14 Februari 2018 lalu, nampak lebih ramai dari biasanya, ratusan orang memadati arena pagelaran seni akuistik yang digawangi kawula muda. Rupanya pengunjung yang rata-rata masih berusia muda itu bermaksud menyaksikan peluncuran album musik Tana Poso, sekaligus memaknai hari valentine di sebuah tempat yang cukup refresentatif bagi usia mereka.

Dan nyatanya memang, dalam kegiatan yang dikemas secara alami dan artistik itu, menampilkan 3 grup band, masing-masing adalah, Sintuwu Akuistik, Watumpoga’a Band dan STT Ue Puro Band. Album yang diproduksi oleh Institut Mosintuwu itu, memuat 6 buah lagu, yakni Inanco, Waya Masapi, Matiandano, Yondo Pamona, Lipu Mpeari dan Isua Tempo. Lagu-lagu yang diaransemen ulang oleh para musisi muda itu kemudian direkam di salah satu studio rekaman di kota Palu.

WATU MPOGAA BAND, Bercerita Tentang Pesona Jembatan Tua Pamona di Tentena

Menurut Yenny Tarau, selaku koordinator program pemuda di Institut Mosintuwu, peluncuran album Tana Poso merupakan bagian dari upaya membuka ruang kepada anak-anak muda di kabupaten Poso untuk berkreatifitas mengembangkan diri mereka.

Dan gayung pun bersambut, Budayawan Poso, Yustinus Hokey yang hadir dalam acara itu menilai, upaya membangun generasi muda yang lebih baik dan terbuka memang memerlukan ruang seni untuk mengekspresikan diri. “Saya mengapresiasi upaya Institut Mosintuwu merangkul anak-anak muda lewat seni”, katanya.

Begitulah Album Tana Poso, sukses memukau pengunjung yang memadati aula Institut Mosintuwu pekan lalu. Asal tahu saja, album yang berisi lagu-lagu tentang kekayaan alam Poso, dimainkan secara apik oleh grup band secara bergiliran dengan memainkan 2 lagu.

Adalah Sintuwu Akustik yang digawangi Edgar (gitar) Leon Patambo (Rythim), Jovan (Perkusi), Josua (bass) dan Bella Lumentut (vokal) menyanyikan lagu gubahan Yustinus Hokey berjudul Waya Masapi dan Inanco. Lagu Waya Masapi bercerita tentang cara orang Poso menangkap Sidat dimulut danau Poso.

Baca Juga :  Ketika CNN Meliput Ke Tampo Lore

Adapun Watumpoga’a, menyanyikan lagu Matia Ndano dan Yondo Pamona. Band beraliran pop rock ini sengaja memilih Yondo Pamona yang dalam bahasa Indonesia berarti Jembatan Pamona, salah satu bangunan ikonik di kota wisata Tentena, jembatan yang dibangun menggunakan kayu sejak awal tahun 1930 an ini membentang lebih dari 200 meter diatas mulut danau Poso hingga saat ini.

STT UE PURO BAND, Rindu Kampung Halaman, Dalam Lagu ‘Lipu Mpeari’

Sementara, STT Ue Puro yang tampil pada kesempatan berikutnya, menampilkan 5 personil yang tidak asing lagi. Grup Band yang digawangi oleh mahasiswa STT GKST Tentena dan Unkrit, plus 2 orang guru SD itu, memainkan alat musik dengan piawai. Diketahui, STT Ue Puro sesungguhnya bukanlah grup band yang baru pertama kalinya manggung, mereka bahkan sudah pernah menjuarai beberapa festival di luar kabupaten Poso seperti di kabupaten Tojo Una-Una dan Morowali Utara.

Pada album kompilasi itu, STT Ue Puro Band yang digawangi Melvin (guitar) Jhony (guitar), Hilfrans (bass), Ferdi (cajon) dan Puput (vokal) menyanyikan lagu Lipu Mpeari dan satu lagu berbahasa Mori, Isua Tempo. Kedua lagu ini bercerita tentang kerinduan terhadap tanah kelahiran yang dialami oleh mereka yang merantau.

“Bikin karya, supaya orang luar tahu kalau Poso indah, Poso bukan tempat untuk orang berkelahi”kata Ikhal (16) salah seorang penonton, larut dalam suasana seni yang memukau. (pmc-02)

 

 

 

Tinggalkan Komentar