BAGIKAN
BUPATI POSO, Kolonel Marinir (Purn), Darmin Agustinus Sigilipu

POSO KOTA UTARA, PMC. Bupati Poso, Darmin Agustinus Sigilipu, belakangan ini mendapat sorotan publik, khususnya terkait dengan rencana pembangunan ‘Poso River Improvement’ di Kota wisata Tentena, Kecamatan Pamona Puselemba. Bukan apa-apa, pembangunan yang diharapkan mendukung infra struktur Tentena sebagai kota wisata itu, belakangan ini memicu pro kontra dari berbagai kalangan, khususnya terkait dengan dampak lingkungan dan aspek sosio-kultural terkait berbagai item pembangunan dalam program tersebut.

Untuk mengetahui tanggapan orang nomor satu di Kabupaten Poso itu, posomediacenter.com, Sabtu kemarin, 10 Maret 2018, menyempatkan diri melakukan wawancara ekslusive dengan Bupati Poso, Darmin Agustinus Sigilipu di rumah jabatan (Banua Tadulako). Berikut petikan wawancanya.

Yondo Mpamona, di Kota Tentena, 1930-an (Sumber : Facebook)

Bagaimana tanggapan Anda terhadap sorotan publik terkait pembangunan Poso River Improvement

Hehehe, (Bupati tertawa, bermaksud mencairkan suasana). Santai saja, pro kontra itu kan hal yang biasa, tergantung bagaimana kita menyikapinya, kalau saya sih mencoba berpositif thinking saja. Jadi sekilas saya mengamati ada banyak pelajaran berharga yang bisa kita petik dari situ.

Maksud Anda?

Ya, Dengan adanya sorotan itu kan secara tidak langsung membantu Pemda Poso dan Poso Energy mensosialisasikan program tersebut. Meskipun memang, tentu kita perlu mencermati satu persatu secara teliti, mana pernyataan yang harus diklarifikasi, mana yang perlu diluruskan, dan mana pula yang tidak perlu ditanggapi karena hanya menguras energi.

Bisa Anda uraikan lebih mendalam?

Begini, kan di media sosial itu tanggapannya sangat beragam, baik yang pro maupun yang kontra. Yang kontra misalnya ada yang menilai Yombo Mpamona itu sebagai cagar budaya, padahal setahu saya, menggolongkan sesuatu sebagai cagar budaya itu kan ada aturannya, tercatat dan memiliki kriteria tertentu. Jadi kalau yang begini harus kita klarifikasi, jangan sampai menjadi sebuah pegangan bagi yang lain, apalagi kalau didiskusikan di media sosial secara luas. Soal isu pembongkaran total ? Ini juga harus kita luruskan, karena bisa menimbulkan kesan bahwa kita membongkar tanpa memperhatikan identitas aslinya. Padahal itu semua kan kita sudah pikirkan jauh-jauh hari, karena itu perlu ditegaskan bahwa yang akan dilakukan adalah renovasi dengan sedapat mungkin tetap mengambil identitas sebelumnya. Sebenarnya designnya sudah dipublikasi secara terbuka, tapi kan tidak semua yang berkomentar di media sosial mencermati dengan baik, bahkan mungkin banyak yang belum pernah melihat design tersebut.

Baca Juga :  Desa Bancea Kini Menuju Desa Wisata
Yondo Mpamoa, Setelah mengalami perubahan bentuk dari atap rumbia menjadi atap seng (Sumber : facebook)

Terlepas dari cagar budaya atau bukan, Yondo Mpamona merupakan warisan Mesale Masa Lalu, sehingga perlu dijaga kelestariannya. Tanggapan Anda?

Itu betul, seperti yang saya jelaskan di atas, identitas aslinya tetap kita pertahankan. Kalau bicara sejarah, sebagai orang Pamona saya juga tahu. Sejauh ini kan sudah beberapa kali terjadi perubahan, dari 1930-an itu dibangun dengan mesale (gotong royong), Ngkai Sigilipu Tua termasuk turut mempelopori pekerjaan jembatan itu kan, jadi kalau soal itu saya juga tahu. Tahun 1960-an, dilakukan lagi perubahan dengan mengganti atap dari rumbia menjadi atap seng, tahun 1980-an direnovasi lagi dengan menggunakan APBD, kalau tidak salah di jamannya Pak Bupati Kuswandi, nah sekarang kita akan renovasi lagi biar lebih cantik sesuai dengan perkembangan zaman.

Anda melihat ada muatan politik di balik itu ?

Hehehe, kalau itu biarlah publik yang menilai, saya coba jalan lurus saja, yang terpikirkan bagi saya saat ini bagaimana infra struktur pariwisata di Tentena dan sekitarnya bisa tertata secara bertahap. Dan saya optimis kalau proyek itu akan menimbulkan dampak yang signifikan ke depan, baik terkait upaya pelestarian lingkungan maupun terhadap terbukanya ruang ekonomi baru untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.

Ada asumsi yang berkembang di tengah masyarakat, program ini hanya akan menguntungkan pihak perusahaan dan pihak tertentu saja, tanggapan Anda?

Kalau asumsi seperti itu kan wajar-wajar saja, curiga boleh asal jangan menuduh ya. Itu tadi yang saya maksudkan, tidak semua harus ditanggapi. Tapi silahkan saja, dipantau, dikawal, dikritisi proses selanjutnya, tidak perlu kita berdebat terlalu jauh soal yang sifatnya masih asumsi.

Terus, bagaimana Anda mengamati tanggung jawab sosial Poso Energy selama ini?

Hehehe, kalau itu sebaiknya ditanya langsung ke pihak perusahaan, apalagi kepemimpinan saya kan baru dua tahun, sementara kehadiran PLTA sudah 13 tahun kan. Tapi sebagai kepala Daerah saat ini tentu saya tidak ingin kehadiran perusahaan hanya merugikan masyarakat saya, setidaknya sampai saat ini ruang komunikasi dengan pihak Poso Energy itu cukup terbuka. Justru dengan program ini kita dorong perusahaan untuk berkonstribusi untuk memajukan daerah kita. Prinsipnya, kita hindari berprasangka terlalu jauh, program ini bukan program coba-coba, program ini telah kita pikirkan secara matang. Nanti kan ada Amdalnya juga yang bisa menjadi pegangan kita bersama. Kalau semua prosedur sudah klir, kalau saya boleh berkomentar saat ini, saya optimis program itu akan mengubah wajah obyek wisata kita khususnya di Tentena dan sekitarnya akan berubah setidaknya 180 derajat.

Baca Juga :  Pemda-Unkrit, Sepakat Kembangkan Pariwisata Poso

Ada wacana yang berkembang untuk mendorong audit lingkungan. Tanggapan Anda?

Ya, silahkan saja didorong, pokoknya semua ide dan gagasan silahkan dikemukakan, kita terbuka untuk itu. Makanya kita juga akan buka forum sosialisasi secara konfrehensif dengan semua pemangku kepentingan. Acaranya kita rencanakan berlangsung di Banua Mpogombo Tentena, tanggal 19 Maret 2018 mendatang. Panitia memang menargetkan undangan peserta 300-an orang, tapi kalau di luar itu ada yang suka datang silahkan, lebih banyak yang hadir lebih bagus. Mudah-mudahan pro kontra yang sedang menghangat saat ini sebagian besar bisa terjawab dalam pertemuan tersebut.

Bersama Bupati Poso, Usai Wawancara, di Banua Tadulako

Target capaian pertemuan ?

Ya, maksudnya supaya ide dan gagasan ini sampai ke publik secara baik, kalau sekarang ini diskusinya belum terarah ya itu wajar saja, makanya kalau pro kontra semakin tajam tak perlu kita khawatirkan, justru itu positif, karena membuat semua pihak tertarik untuk memahami secara mendalam. Tugas kita adalah bagaimana menjelaskan secara terstruktur kepada semua lapisan masyarakat, baik yang pro maupun yang kontra. Jangan salah, yang mendukung (pro) kita juga perlu memberi penjelasan, terus terang saja kita juga tidak mau mereka mendukung tanpa pemahaman yang jelas.

Terakhir, sejauhmana Anda mencermati secara umum sikap pro kontra yang ada selama ini?

Ya itu tadi, saya mencoba berpositif thinking, baik yang pro maupun yang kontra, kalau kita mau jalan pintas, ya kita polling saja toh? Tapi kan kita tidak mau seperti itu, karena memang mereka semua berhak untuk bicara, jadi silahkan saja. Kalau mau jujur saya senang dengan sorotan itu, mengapa? Karena kritikan yang konstruktif itu akan membantu untuk memantau pihak perusahaan, jadi pihak perusahaan jangan main-main, ini banyak yang pantau gitu lo, kira-kira begitu. Jadi bagi saya, para pengkritik yang konstruktif itu saya anggap konsultan gratis, jadi kita hadapi santai saja kan, tak perlu panik, kan ini negara demokrasi, jaman demokrasi jaman now, hehehe. pmc-01

Tinggalkan Komentar