BAGIKAN
PENGUNGSI, Suasana di salah satu kamp pengungsian di kota Palu (Foto : TheAustralian.com)

Jembatan megah dan eksotik di tengah kota Palu itu kini telah tiada, akibat diterjang badai tsunami, Jumat malam, 28 September 2018. Dan kita pun wajar bersedih, larut dalam duka yang mendalam. Asal tahu saja, selain jembatan kebanggaan masyarakat Sulteng itu, puluhan bangunan lainnya pun rubuh akibat getaran dahsyat sebelumnya, Yaa ampun, ratusan nyawa pun tak terselamatkan, dari anak kecil, remaja, dewasa, sampai orang tua lanjut usia. Sampai berita ini diturunkan, sejumlah media mencatat sedikitnya 384 orang meninggal dunia.
Begitulah kisah tragis yang diakibatkan oleh gempa tektonik berkekuatan 7’4 SR itu membuat segenap warga di seantero negeri laut dalam duka mendalam. Diketahui, pusat gempa berada di Desa Sirenja, Kabupaten Donggala, dengan kedalaman 10 km.
Kini situasi kota Palu memang secara perlahan mulai normal, sejumlah bantuan pun mulai mengalir, dan jalan poros Poso-Palu-Parigi sebagai jalur utama pun kini sudah bisa dilewati kembali, termasuk kendaraan roda empat, meski masih membutuhkan kehati-hatian secara ekstra. Namun demikian, sejumlah korban diperkirakan masih terdapat di beberapa lokasi reruntuhan bangunan, dan belum bisa dipastikan semua korban telah terevakuasi secara maksimal.
Selain itu, dari Palu diperoleh informasi sejumlah kamp pengungsi telah tersebar di beberapa tempat, antara lain Posko yang dikoordinir oleh Basarnas, Stadion Gawalise, Lapangan Vatulemo, Jl. Anoa, halaman Masjid Agung, kota Palu. Beberapa kamp pengungsian itu sampai saat ini masih membutuhkan pelayanan secara memadai, karena jalur bantuan selama 24 jam berlalu masih terhambat di beberapa titik, termasuk tertutupnya Bandar udara Mutiara Sis Al Djufri kota Palu bagi pesawat reguler sampai hari ini. Beruntung, pesawat hercules milik TNI-AU yang mengangkut logistik bisa tiba di kota Palu tadi sore.
Pantauan posomediacenter.com di Kota Poso, sejak tadi pagi telah dilakukan penggalangan dana oleh beberapa kelompok organisasi massa dan mahasiswa, antara lain, Lazish Amanatul Ummah, Solidaritas Indonesia Bangkit yang dimotori oleh mahasiswa. Tak hanya itu, beberapa organisasi lainnya sedang menuju Kota Palu sejak tadi siang antara lain, Tagana Poso, Relawan Poso untuk Gempa Sulteng, FPI, dan lainya. “Sore ini, kami telah memberangkatkan tim respon cepat menuju Kota Palu untuk bahu membahu dengan tim yang sudah ada di sana, sementara untuk penggalangan dana akan kami laksanakan besok pagi secara marathon di beberapa titik strategis di seputaran kota Poso”, ujar Fadhil Abdullah, Koordinator Posko Relawan Poso untuk Gempa Sulteng.

AMBRUK DITERJANG TSUNAMI, Jembatan Kuning Ponulele (foto : facebook)

Berikut konsentrasi pengungsian pasca gempa di Kota Palu, sebagaimana dilansir Badan Nasional Penanggulangan Bencana Daerah (BNPBD) tadi sore, pukul 17.30 Wita. Lapangan Vatulemo (1.000 an orang), Halaman perkantoran (2.000an orang), bundaran Biromaru (200-an orang), Bundaran STQ (500-an orang), Makorem (300-an orang), Masjid Raya (300-an orang), Mako Brimob Poboya (300-an orang), Lapangan Anoa (100-an orang), Lapangan Fakiq Rasyid (500-an orang), GOR Siranindi (200-an orang), Seputaran Basuki Rahmat (300-an orang), Jl, Maleo (100-an orang), Kelurahan Pantoloan Boya (200-an orang), Dinas Sosial (100-an orang), Kamping siswa sekitar Tawaeli (883 orang), Titik ketiga Pantoloan Boya (200-an orang), Titik dua pegunungan Pantoloan Poboya (500-an orang), Lapangan Perdos Tondo (1.000-an orang), Sepanjang jalan garuda (250 orang), Lapangan Dayodara (700-an orang), Lapangan Detasment (102) orang, BTN Lasoani (300-an orang), Lapangan Dinamika Kawatuna (300-an orang), Mako Sat Brimob Mamboro (400 orang), Mapolda baru Soekarno Hatta (200-an orang), Perumahan Metro Regency (150-an orang). PMC-01.

Tinggalkan Komentar